Countdown

Sabtu, 12 Desember 2009

Peran Guru Dalam Interaksi Guru Dengan Siswa dan Motivasi Belajar Siswa

    Peranan guru dalam dunia pendidikan turut menentukan sikap, mental, perilaku, kepribadian dan kecerdasan anak. Proses pendidikan banyak terjadi da- lam interaksi guru dengan siswa. Agar proses pendidikan bermutu, pemerintah khususnya melalui Depdiknas secara terus menerus melakukan berbagai upaya perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan kita. Salah satu upaya yang dilakukan adalah lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Undang-undang dan peraturan pemerintah tersebut pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah untuk memperbaiki kualitas guru di Indonesia. Seorang guru dituntut agar terus berkembang sesuai dengan perkem- bangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapabilitas untuk mampu bersaing baik di forum regional, nasional maupun internasional. Dalam kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru (UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab IV Pasal 10) yaitu meliputi kompetensi pedagogik, kom- petensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Penjelasan lebih lanjut mengenai kompetensi-kompetensi guru tertuang dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan:

1.  Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum/silabus, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2.      Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: mantap, stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan diri secara berkelanjutan.
3.      Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk: berkomunikasi lisan dan tulisan, menggu- nakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
4.      Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar, materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, hu- bungan konsep antar mata pelajaran terkait, penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari, dan kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

            Dari penjelasan diatas untuk menjadi seseorang yang dikatakan sebagai guru tidak hanya cukup tahu sesuatu materi yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki kepribadian guru, dengan segala ciri tingkat kedewasaannya.
                  Peran guru tidak hanya sebagai penyampai materi pada mata pelajaran tertentu, tetapi juga guru harus menjadi seorang pendidik. Yang dimaksud dengan guru sebagai pendidik adalah guru tidak hanya mengajarkan pada siswa-siswanya agar tahu beberapa hal tetapi guru harus dapat melatih keterampilan dan terutama sikap mental siswa-siwanya. Menurut Sardiman (1992: 138) peranan guru selain sebagai pengajar dan pendidik, guru juga harus berperan sebagai pembimbing. Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan atau menuntun anak didik dalam perkembangannya dengan jalan memberikan lingkungan dan arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
             Sehubungan dengan perannya sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing, maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri guru. Peranan guru ini akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa (yang terutama), sesama guru, maupun dengan staf lainnya. Menurut Nana Sudjana, peranan guru dalam pengajaran adalah:

1.      Pemimpin belajar, artinya merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengontrol kegiatan siswa belajar.
2.      Fasilitator belajar, artinya memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya.
3.      Moderator belajar, artinya sebagai pengatur urusan kegiatan belajar siswa.
4.      Motivator belajar, artinya pendorong agar siswa mau melakukan kegiatan belajar.
5.      Evaluator belajar, artinya sebagai penilai yang objektif dan konprehensif.
 
    Dari pendapat-pendapat diatas peran guru sangatlah berat, tetapi sangatlah mulia. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, guru sebagai komponen utama dalam pendidikan dituntut untuk mampu mengim- bangi atau bahkan diharapkan mampu melampaui perkembangan ilmu penge- tahuan dan teknologi yang berkembang di masyarakat. Melalui sentuhan-sentuhan guru di sekolah, diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup yang semakin keras.
    Kegiatan pembelajaran akan sangat bermakna bagi peserta didik, apabila kegiatan pembelajaran tersebut mengutamakan interaksi dan komunikasi yang baik antara guru dan siswanya, artinya kegiatan pembelajaran yang dilakukan merupakan tempat bagi peserta didik dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, sehingga tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat terlaksana. Menurut M. Uzer Usman menjelaskan proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi yang edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa proses belajar mengajar mempunya arti yang lebih luas. Tidak sekedar hubungan guru dan siswa, tetapi merupakan interaksi edukatif. Menurut S. Nasution, menjelaskan:
“Peranan guru dalam hubungannya dengan murid bermacam-macam menurut situasi interaksi sosial yang dihadapinya, yakni situasi formal dalam proses belajar mengajar dalam kelas dan dalam situasi informal. Dalam situasi formal, yakni dalam usaha guru mendidik dan mengajar anak dalam kelas guru harus sanggup menunjukkan kewibawaan atau otoritasnya, artinya ia harus mampu mengendalikan, mengatur, dan mengontrol kelakuan anak. Kalau perlu ia dapat menggunakan kekuasaanya untuk memaksa anak belajar, melakukan tugasnya atau memetuhi peraturan. Dengan kewibawaan ia menegakkan disiplin demi kelancaran dan ketertiban proses belajar mengajar.  
             Dari penjelasan di atas, jelas bahwa pelaksanaan peranan guru dalam penciptaan hubungan yang baik dengan anak didik dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan mengendalikan, mengatur dan mengontrol kelakuan siswa di dalam proses belajar mengajar berlangsung, agar para siswa dapat belajar dengan tenang. Dan setiap kelakuan yang dapat menyinggung serta membuat siswa takut harus dihindari.
           Berdasarkan apa yang dikemukanan di atas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan peranan guru dalam penciptaan hubungan antara guru dan siswa yang baik perlu dan memang sangat penting untuk dilaksanakan oleh guru. Hal itu akan dapat menunjang terlaksana peranannya sebagai guru dengan sebaik-baiknya.

Pengertian Guru  
 
    Menurut Thoifuri (2008: 1) guru atau pendidik adalah orang yang mempunyai banyak ilmu, mau mengamalkan dengan sungguh-sungguh, toleran dan menjadikan peserta didiknya lebih baik dalam segala hal. Guru dalam pengertian sistem pendidikan Indonesia adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (pasal 1 ayat 1 UU No.14 Tahun 2005).  
        Menurut Anwar Q. & Sagala S. (2004: 120) guru secara sederhana dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Mulyasa (2006: 37) guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi peserta didik, dan lingkungannya.
     Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah orang yang telah dewasa baik secara jasmani maupun rohaninya, mempunyai banyak ilmu dan mau mengamalkannya dan dapat menjadi tokoh yang diteladani baik dalam lingkungan formal maupun nonformal.
 
Pengertian Siswa  
 
         Menurut Aminuddin Rasyad (2000: 105) peserta didik (siswa) adalah seseorang atau sekelompok orang yang bertindak sebagai pelaku pencari, penerima dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkannya untuk mencapai tujuan. Dari Wikipedia Bahasa Indonesia, siswa adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu. 
          Dapat disimpulkan bahwa siswa adalah seseorang atau sekelompok orang yang telah terdaftar pada suatu lembaga pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal bertujuan ingin memperoleh sejumlah pengetahuan untuk mencapai tujuan tertentu.
 
Pengertian Peranan Guru
 
    Made pidarta (2000) dalam bukunya Landasan Pendidikan mengemukakan bahwa kecenderungan peranan guru pada masa mendatang sebagai berikut:
1)      Sebagai spesialis sumber-sumber pendidikan yang ada di masyarakat.
2)      Mengidentifikasi sumber-sumber pendidikan di masyarakat.
3)      Lebih banyak memberi layanan pendidikan dalam keluarga dan masyarakat.
4)  Sebagai orang tua siswa di sekolah yang bersama orang tua mendidik anak yang bersangkutan.
5)   Sebagai konselor dan administrator kerjasama dengan masyarakat dan personalia lembaga pendidikan.
6)      Sebagai salah satu unsur system pendidikan, bukan dibawah komando atasan.
7)      Mempergunakan wewenang yang sah sebagai alat pendidikan.
8) Pengembangan profesi direncanakan bersama oleh pendidik bersangkutan dengan pemimpin lembaga tempat ia bekerja.



Menurut Rojib (2009) peranan guru yang dianggap paling dominan:
1)Guru sebagai demonstrator
Melalui peranya sebagai demonstrator atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkanya serta senantiasa mengembangkanya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam ilmu yang dimiliki karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai siswa. Salah satu yang harus diperhatikan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus terus menerus belajar.
Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga mampu memeragakan apa yang diajarkanya secara didaktis. Maksudnya agar apa yang disampaikanya itu betul-betul dimiliki oleh siswa. Juga hendaknya seorang guru mampu dan terampil dalam merumuskan dan memahami kurikulum, dan dia sendiri sebagai sumber belajar terampil dalam memberikan informasi kepada kelas. Sebagai pengajar, iapun harus membantu perkembangan siswa untuk dapat menerima, memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan.

2)Guru sebagai pengelola kelas
Dalam perannya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar sehat merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan. Lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang, dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
Sebagai manajer guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses intelektual dan social dalam kelasnya. Salah satu manajemen kelas yang baik adalah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantunganya pada guru sehingga mereka mampu membimbing kegiatanya sendiri.
Sebagai manajer lingkungan guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan tentang teori-teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan.

3)Guru sebagai mediator dan fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar. Dengan demikian media pendidikan merupakan dasar yang diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Guru tidak hanya cukup memiliki pengetahuan tentang media pendidikan, tetapi juga harus memiliki ketrampilan memilih dan menggunakan serta mengusahakan media itu dengan baik. Guru harus dapat memilih media yang sesuai dengan tujuan, materi, metode, evaluasi, dan kemampuan guru serta minat dan kemampuan siswa.
Sebagai fasilitator, guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah ataupun surat kabar.

4)Guru sebagai evaluator
Guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian. Dengan penilaian guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok siswa yang pandai, sedang, kurang atau cukup baik dikelasnya jika dibandingkan dengan teman-temanya.
Guru juga dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. Jadi jelaslah bahwa guru hendaknya mampu dan terampil dalam melaksanakan penilaian karena dengan evaluasi guru dapat mengetahui prestasi siswa setelah melaksanakan proses belajar mengajar.
Guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh merupakan feedback terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya.

5)Korektor
Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat.

6)Inspirator
Sebagai inspirator, guru harus memberikan inspirasi bagi kemajuan belajar siswa. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik, guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik.

7)Organisator
Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan guru, dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan. Kegiatan akademik dan sebagainya. Semua diorganisasikan sehingga seperti mencapai efektifitas dan efisiensi dalam belajar pada siswa.

8)Motivator
Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar.

9)Inisiator
Sebagai inisiator guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.

10)Pembimbing
Sebagai pembimbing guru hendaknya membimbing siswa menjadi manusia dewasa susila yang cakap.

11)Supervisor
Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervise harus guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik.

Sardiman (2001: 142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan belajar mengajar, sebagai berikut:
1)Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.

2)Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.

3)Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.

4)Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

5)Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar mengajar.

6)Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.

7)Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar.

8)Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.

9)Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

Dari pengertian-pengertian yang telah dikemukakan di atas peranan guru adalah proses mengarahkan anak didik untuk melakukan kegiatan belajar dalam rangka perubahan tingkah laku (kognitif, afektif, dan psikomotor) menuju kedewasaan serta untuk mengembangkan kapasitas pembelajaran, yang memungkinkan aktivitas manajemen, orang tua siswa di sekolah yang bersama orang tua mendidik anak yang bersangkutan, struktur organisasi, sistem dan proses yang diperlukan untuk menangani kegiatan mengajar dan peluang belajar para peserta didik secara maksimal.

Peranan Guru Dalam Interaksi Guru Dengan Siswa

Menurut Slameto (2003: 100) peran guru dalam hubungan siswa dengan guru adalah dicari oleh siswa untuk memperoleh nasihat dan bantuan, mencari kontak dengan siswa di luar kelas, memimpin kegiatan kelompok, memiliki minat dalam pelayanan sosial, dan membuat kontak dengan orang tua siswa. Adi Bandono (2008) mengemukakan bahwa interaksi guru dan siswa adalah interaksi yang dijalin antara guru dengan siswa dalam interaksi sosial ini hubungan yang positif antara yang satu dengan yang lain dilandasi oleh perasaan dan empati satu sama lainnya.

Menurut Indra Djati Sidi (2000) dengan singkat dapat disampaikan bahwa hubungan antara guru dengan siswa tidak dibatasi oleh ruang kelas, di pasar, di lapangan, di perpustakaan, di tempat rekreasi dan lain-lain. Hal inilah yang akan menciptakan suasana yang kondusif yang didasarkan hubungan harmonis antara guru dengan siswa. Dengan demikian proses peningkatan mutu guru ditekankan pada proses berkelanjutan melalui pemberdayaan diri sendiri.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa interaksi antara guru dengan siswa adalah hubungan timbal balik positif yang bersifat edukatif tidak dibatasi oleh ruang dan waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah disepakati bersama secara efektif.

Pengertian Motivasi

Menurut Dadi Permadi (2000: 72) motivasi adalah dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baik yang positif maupun yang negatif. Menurut Walgito (2002) Motif berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau tomove yang berarti kekuatan dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif sebagai pendorong tidak berdiri sendiri tetapi saling terkait dengan faktor lain yang disebut dengan motivasi.

Nasution (2002: 58), membedakan antara motif dan motivasi. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi, sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya.

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan dalam diri seseorang dalam usahanya untuk memenuhi keinginan, maksud dan tujuan, namun dalam penerapannya nanti, penggunaan masing-masing unsur tersebut adalah berbeda untuk setiap orang. Sesuai kebutuhan dan keinginan masing-masing.

Ciri-Ciri Motivasi

Dalam Sardiman (2001:81), disebutkan bahwa motivasi yang ada pada diri siswa, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)Tekun menghadapi tugas.
2)Ulet menghadapi kesulitan.
3)Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4)Lebih senang bekerja mandiri.
5)Tidak cepat bosan pada tugas-tugas rutin.
6)Dapat mempertahankan pendapatnya.
7)Tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya.
8)Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

Jenis-Jenis Motivasi

Menurut sifatnya, Sardiman (2001: 87) motivasi dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, sebagai berikut:
1)Motivasi intrinsik
Motivasi adalah motif-motif yang menjadi aktif atau karena dalam dirinya setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu, misalnya: kesadaran untuk belajar di rumah, kemauan untuk mengerjakan tugas, menyimak keterangan guru dan berfungsinya aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, kemauan untuk mengemukakan pendapat.

2)Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar,misalnya peran orang tua dan guru dalam pemberian motivasi agar ia giat belajar.

Menurut E. Kusmana Fachrudin (2000: 44) motivasi dibedakan atas dua golongan sebagai berikut:
1)Motivasi Asli
Motivasi asli adalah motivasi untuk berbuat sesuatu atau dorongan untuk melakukan sesuatu yang muncul secara kodrati pada diri manusia.

2)Motivasi Buatan
Motivasi buatan adalah motivasi yang masuk pada diri seseorang baik usaha yang disengaja maupun secara kebetulan.

Fungsi Motivasi

Ada beberapa fungsi motivasi menurut Nasution (1999: 76) sebagai berikut:
1)Mendorong manusia untuk berbuat. Jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi disini merupakan motor penggerak dari kegiatan yang akan dikerjakan.

2)Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Motivasi disini memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

3)Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan apa yang harus dikerjakan, yang serasi dalam mencapai tujuan dengan menyisihkan perubahan-perubahan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Pengertian Belajar

Menurut Slameto (2003: 2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Slavin (2000: 143) belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.

Menurut Sumadi Suryabrata (2005: 232) belajar adalah perubahan tingkah laku baik aktual maupun potensial, perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya tingkah laku baru atau kecakapan baru dan perubahan tersebut diperoleh karena adanya usaha, bukan karena kematangan, kelelahan, dan kekuatan otot. Menurut Ence Surahman (2009) belajar ialah proses penyesuaian seorang individu terhadap suatu keadaan secara sadar dan berpengaruh pada perubahan tingkah lakunya sesuai dengan yang dialaminya dengan kadar yang relative permanen melalui proses pemasukan, penyaringan, pemrosesan, dan pengeluaran hasil kepada individu lain.

Dari pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu.

Tujuan Belajar

Dalam Sardiman (2001:26), disebutkan ada tiga jenis tujuan belajar yakni sebagai berikut:
1)Untuk mendapatkan pengetahuan
Untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir diperlukan bahan pengetahuan. Tujuan inilah yang memiliki kecenderungan lebih besar perkembangannya di dalam kegiatan belajar. Dalam hal ini peranan guru sebagai pengajar lebih menonjol.

2)Penanaman konsep dan ketrampilan
Penanaman konsep atau merumuskan konsep, juga memerlukan suatu ketrampilan. Ketrampilan di sini diartikan ketrampilan jasmani dan rohani. Ketrampilan jasmani menitikberatkan pada ketrampilan gerak dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar sedangkan ketrampilan rohani menyangkut persoalan penghayatan, ketrampilan berpikir dan kreativitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu masalah atau konsep.

3)Pembentukan sikap
Pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik, tidak akan terlepas dari soal penanaman nilai-nilai, transfer of value. Oleh karena itu, guru tudak sekedar “pengajar”, tetapi betul-betul sebagai pendidik yang akan memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya.

Jenis-Jenis Belajar

Menurut Nasution (2000: 57) menyebutkan ada beberapa jenis belajar yang berhubungan dengan hal yang harus dipelajari antara lain:
1)Belajar berdasarkan pengamatan
Pengamatan sangat penting sebagai dasar untuk memperoleh pengertian dan tanggapan yang jelas tentang sesuatu misalnya tanggapan visual dalam ilmu hayat, ilmu alam, kimia, geografi dan sebagainya yang banyak memerlukan pengamatan langsung.

2)Belajar berdasarkan gerak
Belajar berdasarkan gerak ini membutuhkan gerakan fisik seperti cara menulis, membaca, gerakan olah raga. Oleh karena itu dalam belajar berdasarkan gerak ini ada hal-hal yang perlu diperhatikan siswa yaitu mengetahui tujuan, mempunyai tanggapan yang jelas tentang kecakapaaan, pelaksanaan yang tepat pada taraf kecakapan itu dan latihan untuk mempertinggi kecepatan.

3)Belajar berdasarkan menghafal
Belajar yang bersifat hafalan ini yang paling banyak digunakan di sekolah, baik di sekolah dasar maupun di sekolah yang lebih tinggi sebab belajar adalah menempuh ujian dan untuk itu di perlukan penguasaan sejumlah pengetahuan.

4)Belajar berdasarkan pemecahan masalah
Metode pemecahan masalah dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah dalam berbagai mata pelajaran seperti matematika, fisika, sejarah, biologi dan sebagainya. Selain itu, metode pemecahan masalah ini diperlukan juga untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.

5)Belajar berdasarkan emosi
Segi-segi pribadi seperti ketekunan, ketabahan menghadapi masalah, ketelitian, kebersihan, kecakapan dalam bergaul dengan orang lain dan sering dipelajari dalam
setiap pelajaran sebab selalu tersimpul didalamnya, akan tetapi belajar berdasarkan emosi ini sangat kurang mendapat perhatian pendidik karena belajar jenis ini sukar sifatnya dan pelaksanaan yang tidak mudah.

Prinsip Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999: 42) ada beberapa prinsip belajar yang berlaku umum yang dipakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya, prinsip-prinsip itu antara lain:
1)Perhatian dan motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.

2)Keaktifan
Belajar hanya mungkin terjadi apabila siswa aktif mengalami sendiri.

3)Keterlibatan langsung atau pengalaman
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan ketrampilan.

4)Tantangan
Agar pada siswa timbul motif yang kuat mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi prinsip-prinsip tersebut.

5)Balikan dan penguatan
Siswa akan belajar lebih semangat apabila mendapatkan hasil yang baik. Hasil yang baik akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik pada usaha belajar selanjutnya. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan merupakan cara belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk lebih giat dan bersemangat.

6)Perbedaan individual
Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya. Karenanya, perbedaaan individual perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.

Pengertian Motivasi Belajar

Menurut Whandi (2008) motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha seseorang (siswa) untuk menyediakan segala daya (kondisi-kondisi) untuk belajar sehingga ia mau atau ingin melakukan proses pembelajaran. Menurut Sarah Handayani (2003) Motivasi belajar adalah factor pendukung yang dapat mengoptimalkan kecerdasan anak dan membawanya meraih prestasi.

Menurut Muzaqi (2008) motivasi belajar berarti keseluruhan daya penggerak di dalam diri para siswa/peserta didik yang dapat menimbulkan, menjamin, dan memberikan arah pada kegiatan belajar, guna mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Dengan motivasi belajar, maka siswa/peserta didik dapat mempunyai intensitas dan kesinambungan dalam proses pembelajaran/pendidikan yang diikuti.

Dari pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah usaha-usaha seseorang yang dapat memberikan arah dalam melakukan kegiatan belajar guna mencapai tujuan belajar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Menurut Max Darsono, dkk (2000: 34) ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain:
1)Cita-cita atau aspirasi
Cita-cita atau apirasi adalah suatu target yang ingin dicapai. Penentuan target ini tidak sama bagi semua siswa. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang.

2)Kemampuan
Dalam belajar dibutuhkan kemampuan. Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa, misalnya pengamatan, perhatian dan daya pikir fantasi.

3)Kondisi siswa
Kondisi siswa meliputi kondisi fisik dan kondisi psikologis tetapi biasanya guru lebih cepat melihat kondisi fisik karena jelas menunjukkan gejalanya daripada kondisi psikologisnya.

4)Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan siswa meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketiga unsur lingkungan tersebut di atas dapat mendukung dan menghambat motivasi belajar.

5)Unsur-unsur dinamis dalam belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali khususnya kondisi-kondisi yang sifatnya kondisional misalnya emosi siswa, gairah belajar, situasi belajar, situasi dalam keluarga.

6)Upaya guru membelajarkan siswa
Upaya yang dimaksud di sini adalah bagaimana guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa, mengevaluasi hasil belajar siswa. Bila upaya tersebut dilaksanakan dengan berorientasi pada kepentiangan siswa maka diharapkan upaya tersebut menimbulkan motivasi belajar siswa.

Cara Menumbuhkan Motivasi Belajar

Motivasi belajar siswa sangatlah penting dalam proses pembelajaran karena dengan menggerakkan motivasi yang terpendam dan menjaganya dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan siswa akan menjadikan siswa itu lebih giat belajar. Siswa yang bekerja dengan motivasi yang kuat, ia tak akan merasa lelah dan tidak cepat bosan. Oleh karena itu, guru perlu memelihara motivasi pelajar dan semua yang berkaitan dengan motivasi seperti kebutuhan. Menurut Nasution (2000: 78) ada beberapa cara menumbuhkan motivasi belajar siswa antara lain:
1)Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Dalam proses belajar-mengajar perolehan nilai yang berupa angka bagi siswa sangat penting artinya sebagai alat motivasi untuk terus meningkatkan prestasi belajarnya.

2)Hadiah
Hadiah memang dapat membangkitkan motivasi bila motivasi setiap orang mempunyai harapan untuk memperolehnya. Bagi siswa, hadiah tidak selalu merupakan motivasi karena hadiah juga dapat merusak sebab dapat menyimpangkan pikiran siswa dari tujuan belajar sesungguhnya.

3)Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan baik individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

4)Memberi ulangan
Siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan, oleh karena itu memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi.

5)Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Dalam hal ini guru perlu membagikan hasil ulangannya kepada siswa, agar siswa mengetahui perolehan nilai yang diraihnya. Ini penting sebagai upaya untuk terus memacu prestasi belajar siswa.

6)Pujian
Apabila ada siswa yang sukses berhasil menyelesaikan tugas dengan baik perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu agar pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat.

7)Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar diartikan ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hasrat untuk belajar berarti pada diri siswa itu memang ada motivasi untuk belajar sehingga diharapkan hasil belajarnya akan lebih baik.

8)Minat
Motivasi muncul disebabkan adanya minat. Sehingga minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar akan berjalan dengan lancar bila disertai minat.

Menurut Uus Manzilatusifa (2009) Motivasi yang sengaja dibentuk oleh orang luar dalam hal ini guru dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1)Pemberian Penghargaan
Dengan pemberian penghargaan ini dapat besifat positif karena dapat menumbuhkan inisiatif, kemampuan-kemampuan yang kreatif dan semangat berkompetisi yang sehat, pemberian penghargaan sebagai upaya pembinaan motivasi tidak selalu harus berwujud atau barang, tetapi dapat juga berupa pujian-pujian dan hadiah-hadiah im-material.

2)Pemberian Perhatian
Pemberian perhatian yang cukup terhadap siswa dengan segala potensi yang dimilikinya merupakan bentuk motivasi yang sederhana, karena banyak yang tidak memiliki motivasi belajar diakibatkan tidak dirasakannya adanya perhatian. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin adanya pembelajaran. Perhatian akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya, apabila bahan pelajaran dirasakan sebagai suatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan sehari-hari akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada, maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.

3)Ajakan Berpartisipasi
Pada diri manusia ada sesuatu perasaan yang dihargai apabila dia dilibatkan pada sesuatu kegiatan yang dianggap berharga. Oleh karena itu guru, harus selalu mengajak dan mengulurkan tangan bagi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran guna lebih bergairah dalam belajar dan memperkaya proses interaksi antar potensi siswa dalam proses pembelajaran.

Prinsip Motivasi Belajar

Menurut Uus Manzilatusifa (2009) prinsip-prinsip motivasi dalam belajar adalah sebagai berikut:
1)Kebermaknaan
Siswa akan termotivasi untuk belajar jika kegiatan dan materi belajar dirasa bermakna bagi dirinya. Keberadaan lazimnya terkait dengan bakat, minat, pengetahuan, dan tata nilai siswa.

2)Pengetahuan dan keterampilan prasyarat
Siswa akan dapat belajar dengan baik jika dia telah menguasai semua prasyarat baik berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Oleh karena itu, siswa akan menggunakan pengetahuan awalnya untuk menafsirkan informasi dan pengalamannya.
Penafsiran itu akan membangun pemahaman yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal itu. Dengan demikian, guru perlu memahami pengetahuan awal siswa untuk dikaitkan dengan bahan yang akan dipelajarinya. Sehingga membuat belajar menjadi lebih mudah dan bermakna.

3)Model
Siswa akan menguasai keterampilan baru dengan baik jika guru memberikan contoh dan model untuk dilihat dan ditiru.

4)Komunikasi terbuka
Siswa akan termotivasi untuk belajar jika penyampaian dilakukan secara terstuktur sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa sehingga pesan pembelajaran dapat dievaluasi dengan tepat.

5)Keaslian dan tugas yang menantang
Siswa akan termotivasi untuk belajar jika mereka disediakan materi, kegiatan baru atau gagasan murni/asli (novelty) dan berbeda. Kebaruan atau keaslian gagasan akan menambah konsentrasi siswa pada pembelajaran. Hal ini berpengaruh pada pencapaian hasil belajar. Konsentrasi juga dapat bertambah bila siswa menghadapi tugas yang menantang dan sedikit melebihi kemampuan. Sebaliknya bila tugas terlalu jauh dari kemampuan, akan terjadi kecemasan, dan bila tugas kurang dari kemampuan akan terjadi kebosanan.

6)Latihan yang tepat dan aktif
Siswa akan dapat menguasai materi pembelajaran dengan efektif jika KBM memberikan kegiatan latihan yang sesuai dengan kemamapuan siswa dan siswa dapat berperan aktif untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

7)Penilaian tugas
Siswa akan memperoleh pencapaian belajar yang efektif jika tugas dibagi dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang dengan frekuensi pengulangan yang tinggi.

8)Kondisi dan konsekuensi yang menyenangkan.
Siswa akan belajar dan terus belajar jika kondisi pembelajaran dibuat menyenangkan, nyaman dan jauh dari perilaku yang menyakitkan perasaan siswa. Belajar melibatkan perasaan. Suasana belajar yang menyenangkan sangat diperlukan karena otak tidak akan bekerja optimal bila perasaan dalam keadaan tertekan. Perasaan senang biasanya akan muncul bila belajar diwujudkan dalam bentuk permainan khususnya pendidikan usia dini. Selanjutnya bermain dapat dikembangkan menjadi eksperimentas yang lebih tinggi.

9)Keragaman pendekatan
Siswa akan belajar jika mereka diberi kesempatan untuk memilih dan menggunakan berbagai pendekatan dan stategi belajar. Pengalaman belajar tidak hanya berorientasi pada buku teks tetapi juga dapat dikemas dalam berbagai kegiatan praktis seperti proyek, simulasi, drama dan atau penelitian/pengujian.

10)Mengembangkan beragam kemampuan
Siswa akan belajar secara optimal jika pelajaran disajikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan seperti kemampuan logis matematis, bahasa, musik, kinestetik, dan kemampuan intern maupun intra personal. Tiap siswa memiliki lebih dari satu kecerdasan yang meliputi kecerdasan: musik, gerak badan (kinestetik), logika-matematika, bahasa, ruang, intra pribadi, dan antar pribadi. Sekolah perlu menyediakan berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan kecerdasan itu berkembang; sehingga anak dengan berbagai kecerdasan yang berbeda dapat terlayani secara optimal.

11)Melibatkan sebanyak mungkin indera
Siswa akan menguasai hasil belajar dengan optimal jika dalam belajar siswa dimungkinkan menggunakan sebanyak mungkin indera untuk berinteraksi dengan isi pembelajaran.

12)Keseimbangan pengaturan pengalaman belajar
Siswa akan lebih menguasai materi pembelajaran jika pengalaman belajar diatur sedemikian rupa sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk membuat suatu refleksi penghayatan, mengungkapkan dan mengevaluasi apa yang dia pelajari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar